Cerpen Sekolahku Asmaraku merupakan Kisah dari seseorang yang mudah jatuh cinta, ku tulis hanya untuk menghibur hati bagi yang membaca, apapun alasannya tak ada waktu buat mencela hasil karya orang lain, hargai dan berikan kesempatan untuk orang berkreasi.

 

2007 merupakan tahun pertama kali aku menginjakan kaki di sebuah sekolah menengah kejuruan yang aku inginkan sejak aku  duduk dibangku smp, aku seperti orang yang terbangun dari mimpi saat berada di sekolah ini, suasana sekolah yang begitu berbeda dengan sekolah ku sebelumnya, siswa siswinya, fasilitas kelas dan kapasitasnya begitu besar, maklum saja aku dari kampung dan baru melihat hal seperti ini.

 

Kisah asmaraku aku mulai sejak kelas 1 dan aku mulai jatuh cinta dengan teman sekelasku didalam kelas aku terus memperhatikan nya tanpa memperhatikan guru yang sedang mengajar didepan, beberapa minggu berlalu aku sudah tak sabar ingin mengutarakan perasaanku kepada perempuan yang aku perhatikan sejak aku masuk disekolah baruku ini. Pada suatu kesempatan aku memberanikan diri untuk mendekati perempuan itu, aku menanyakan bagaimana kabarnya, alamat rumahnya, bahkan sempat meminta no hand phonenya, dia memberi respon yang  baik kepadaku, sepulang sekolah aku minjam handphone teman dan menghubunginya, dan mengajaknya ngobrol tp tidak berapa lama pulsa temenku habis, tlponnya mati sampai – sampai aku belum sempat ngucapin salam perpisahan.

 

Keesokan harinya disekolah kami bertemu seperti biasa, dan seperti biasa pula aku terus memperhatikannya, senyumnya manis, matanya bulat, dan suaranya yang merdu selalu terbayang dalam fikiranku. Kini tiba saatnya aku harus mengungkapkan isi hatiku kepadanya sebelum ada yang mendahuluiku. Aku tak sabar menunggu bel berbunyi dan ingin sekali aku menarik jarum jam agar bergerak kepukul 14.00.

 

Selang beberapa lama bel pun berbunyi dan aku sudah siap – siap menghampirinya, setelah aku didekatnya aku gugup tak karuan, bibir ini terasa dikunci, kemudian aku menarik nafas yang dalam, hai “kamu pulang ma siapa”?.. kataku ..“sendiri” kenapa”?. Ujarnya..

 

“Boleh aku temani”?..dia tersenyum sambil menganggukkan kepala, aku semakin tak sabar.. setelah usai berbasa basi aku pun langsung mengatakan yang sebenarnya bahwa aku sudah lama memendam rasa dengannya, dia terdiam dan aku kembali meyakinkan dengan kata – kata ku yang kaku dan apa adanya itu, dia pun belum memberi respon apapun, aku pun semakin penasaran dibuatnya, dalam hati bertanya ada apa dengan cewe ini..aku terus bicara tuk meminta jawabannya, dia pun bicara, “aku juga menyukaimu” katanya sambil tersenyum..tapi Cuma sebagai teman, tidak lebih dari itu”. Mendengar perkataannya langkahku pun terhenti dan menatapx yang sedang berjalan, perasaan tak karuan aku rasakan saat itu, ternyata yang aku rasakan selama ini bertepuk sebelah tangan, betapa kecewanya aku saat itu.

 

            Rasa penasaran sama cewe itu masih terus membayangiku, karena dia belum memberi alasan mengapa dia tidak menerimaku, ya sudahlah buat apa aku mikirin orang yang ga mikirin aku, masih bnyak ko cewe yang lain disekolah ini, kata – kata ini yang aku jadikan jurus ampuh agar tidak sakit hati terlalu dalam.

 

            Oh iya, namaku andre, aku anak kelas 1 multimedia, aku berasal dari kampung yang jauh dari sekolahku sehingga aku harus menyewa tempat tinggal, kalau bahasa ngttrennya tu, kost gitu. Ada enam teman satu smp ku yang sekolah bersamaku namun 1 teman ku harus terpisah dari kami karena dia memilih sekolah lain namanya riah, dan temanku yang lima itu satu sekolah denganku, ada fai, zia,jans, pat, daenk.

 

            Beberapa bulan kemudian aku merasa kurang betah dengan suasana kota, bagiku saat itu sangat membosankan, tak ada kehidupan bagiku, aku seperti merpati tanpa sayap, tak bisa kemana mana, kejenuhan ku terus berlanjut hingga suatu ketika temanku riah mau memperkenalkan aku dengan teman satu sekolahnya, emmm.. aku sih ok ok aja.. sesampainya dirumahku aku mempersilahkan riah dan temannya itu tuk masuk dan duduk.

 

            Sambil ditemani secangkir teh hangat kami pun berbincang bincang sambil membahas masa lalu dengan riah, teman riah hanya ikut tertawa karena tidak mengerti kronologin kisah kami ketika di smp dulu, aku mulai bertanya kepada riah, riah,,siapa temen kamu? Ohh..Lian kata riah..aku kembali bertanya tentang lian, tapi kata riah Tanya sendiri aja,,aku mulai mengajaknya berjabat tangan dan memperkenalkan namaku kepadanya,

 

            Senja sudah tiba, riah dan lian pamit untuk pulang, sempat aku mengantarnya keluar sampai depan pintu, “hati – hati dijalan ya” kataku sambil tersenyum…

 

Lian, nama gadis itu, kenapa aku jadi mikirkan dia, “jangan – jangan” kataku dalam hati.. tapi itu lah aku selalu mikirin hal yang ga jelas,, tapi cewe tu boleh juga, apa salahnya tuk mencoba.

 

            Malam telah kembali ke peraduannya, aku kembali merasakan kejenuhan, karena pada saat itu aku tak punya alat komunikasi untuk menanyakan aktivitas lian, handphone misalnya. Kadang aku merasa iri dengan temanku yang punya handphone, alangkah senangnya mereka bisa berkomunikasi dengan teman diluar sana, sedang aku Cuma bisa berbaring sambil menikmati kehampaan dan kekosongan yang menemaniku.

 

            Satu minggu kemudian aku mencari tau tentang siapa lian sebenarnya dari riah, apakah dia sudah punya pacar atau PDKTan, sempat senang saat tau klo dia belum pernah pacaran, mengetahui hal itu, tanpa pikir panjang aku menembaknya, dan aku perlu waktu beberapa hari tuk mengetahui jawabannya karena itu permintaan darinya. Tapi sejak itu salah satu temanku juga menyukainya dan sudah menyatakan cinta padanya namanya Ryan,aku sempat putus asa, bagaimana mungkin kali ini aku kembali ditolak tuk yang ke dua kalinya, aku ingin menyerah namun aku juga tak mau kehilangan dia, dan aku tak sanggup melihatnya jika dia lebih memilih  Ryan.

 

            3 hari berlalu, aku memutuskan untuk meminta jawaban darinya, harapan yang begitu besar aku pikul untuk menemuinya, dalam hati terus bertanya seakan ini merupakan sesuatu yang sangat berat, menatap nya saja aku sudah senang apalagi bisa memiliki, perasaan sudah bercampur baur tak karuan namun aku harus tetap tenang, apapun jawabannya itu merupakan yang terbaik untuk dia dan aku karena itu pilihan darinya dan aku tak mau memaksakan kehendakku.

 

            Setelah bertemu aku memulai percakapan dengannya, berusaha membuat dia tertawa dan merasa senang dengan hadirnya aku ddidekatnya, sesaat semua terdiam setelah aku menyebut namanya, aku menatap wajahnya yang polos, penuh dengan semangat dan harapan aku pun memulai tuk membahas masalah perasaan yang sudah aku utarakan namun belum mendapat jawaban, “Lian..aku rasa ini sudah waktunya untuk mengetahui bagaimana balasan dari perasaanku padamu, aku rasa 3 hari sudah cukup untuk memikirkan hal ini, aku akan menghargai semua keputusanmu, walau berat, itulah resikoku.”..dia tersenyum, aku semakin bersemangat, “iya, katanya”..aku memperjelas, “iya apa?”..dia menjawab “iya, aku bisa jadi apa yang kamu mau”..aku pun tersenyum sambil menatapnya..”kamu serius kan”?..”iya, seriuss J. Aku pun merasakan senang yang amat dalam, tak pernah seperti ini sebelumnya..

 

            Lalu, bagaimana dengan Ryan, dan dia memberikan alasan mengapa memilihku dibanding Ryan..mendengar alasan darinya aku pun merasa yakin, aku juga bisa mendapatkan cinta tanpa harus terus menerus ditolak oleh cewe – cewe lain.

Kisahku bertahan hingga satu bulan, namun aku memutuskan meninggalkannya dan mencari penggantinya, namun setelah delapan bulan kami tidak bertemu, kami dipertemukan lagi dan menjalani hubungan yang serius hingga sekarang.